Skip to main content

Impian di Atas Kertas



Make Dream Come True



Jangan berhenti untuk bermimpi, gantunglah mimpi-mimpimu di atas langit bersama bintang-
bintang, karena saat kau jatuh setidaknya kamu terjatuh di antara bintang-bintang.

“Apa hubungannya impian yang ditulis di kertas lalu dibiarkan mengalir di sungai dengan
terwujudnya sebuah impian?” pikirku saat melihat sebuah film berjudul Perahu Kertas di rumah
temanku, yang membawa pesan menganjurkan menulis semua impian agar bisa cepat terwujud.

Oh iya perkenalkan aku Anggita Dwi Setyowati, sering dipanggil Ita tapi ada juga nama
bekenku dari SD sampai saat ini di usiaku yang sudah mencapai kepala dua yaitu Genul. Aku
lahir dan tinggal di Kota Pekalongan, aku anak ke 2 dari 3 bersaudara.

Beberapa bulan yang lalu aku menuliskan impian-impianku, hal ini bermula dari rasa
penasaranku terhadap film yang pernah aku lihat sebelumnya. 

Akankah impian-impianku menjadi kenyataan? Tanpa pikir panjang aku segera menuliskan impian-impian yang aku ingin capai, khususnya yang ditargetkan untuk tahun ini. Aku tidak sendirian menuliskan mimpi-mimpi itu, aku bersama satu teman dekatku, dia dipanggil MJ, bukan Merry Jane tapi nama

sebenarnya adalah Miftahul Jannah, MJ juga tertarik untuk menuliskan impian-impiannya.
Aku dan temanku fokus memikirkan dan mencatat impian masing-masing.  Aku ingat saat itu impian terbesar dan terdekatku adalah aku ingin bekerja di Jakarta. 

Impian itu aku tulis menjadi impian nomor satu dengan tulisan yang paling besar, kemudian diikuti dengan impian-impian yang lainnya. Setelah kami selesai menuliskan impian di secarik kertas yang kami miliki, kami langsung menuju ke sungai yang berada di area samping sekolah. 

Tujuan kami menuliskan impian-impian itu di secarik kertas adalah agar kami selalu ingat dengan impian-impian itu, dengan mengingat impian-impian itu aku bisa lebih bersemangat untuk belajar agar bisa lebih mudah untuk mewujudkannya.

Aku fokus untuk memikirkan bagaimana aku bisa lulus dengan nilai terbaik dan bisa bekerja di
salah satu perusahaan di Jakarta. Sebelum pengumuman kelulusan tiba dan sebelum meminta
ijin bekerja ke Jakarta, mama dan papa sempat berpesan kepadaku, setelah lulus nanti aku harus
melanjutkan sekolah atau kuliah di salah satu universitas yang berada di Kota Pekalongan,
mendengarkan pesan tersebut membuatku bimbang dengan apa yang akan menjadi keputusanku
kedepannya, bekerja di Jakarta adalah salah satu impian besarku tetapi disisi lain mungkin orang
tuaku sangat berat mengijinkanku bekerja di Jakarta.

Kelulusan pun sudah di depan mata, 2 hari menuju pengumuman kelulusan sekolah, aku pun
bergegas memberitahu orang tuaku bahwa aku ingin bekerja di Jakarta, “ma, pa, setelah
kelulusan, Ita ingin bekerja di Jakarta bersama dengan teman-teman Ita”. 

Setelah aku menyampaikan keinginanku, papa dan mama sepertinya masih memikirikan yang terbaik
kedepannya untuk diriku, mereka hanya diam sambil menonton televisi di ruang keluarga. 
15 menit kemudian papa bertanya, “memang istimewanya bekerja jauh-jauh ke Jakarta apa?
sampai-sampai kamu ingin sekali pergi ke sana?”.

“ingin merasakan cari uang sendiri dan hidup mandiri, Ita janji tidak akan berbuat macam-
macam di luar sana”, janjiku kepada papa sembari menjawab pertanyaan papa.

“kerja di Pekalongan kan bisa, tidak perlu jauh-jauh ke Jakarta” Papa merespon kembali dengan
sarannya.

Sempat merasa sedih dan putus harapan mendengar tanggapan yang diberikan oleh papa, yang
menurutku tidak mengijinkanku bekerja di Jakarta, aku berfikir “akankah mimpi-mimpiku yang
sudah pernah aku tulis bersama temanku akan tercapai?” tak berhenti aku berdoa agar orang
tuaku memberikan ijin kepadaku untuk bekerja di Jakarta.

Aku bersama salah satu temanku yang lain yang bernama Lina, sebelum pengumuman
kelulusan, kami mencoba mendaftar di beberapa perusahaan yang memiliki kantor pusat di
Jakarta dan sekitarnya. 

Kemudian hari pengumuman kelulusan tiba, dan surat pengumuman
keululusan menyatakan bahwa aku lulus, akupun tak lupa untuk beryukur setelah perjuangan
selama 3 tahun terbayar sudah dengan kelulusan ini, “alhamdulillah aku lulus”.

Beberapa bulan setelah kelulusan, aku mendapat panggilan pekerjaan di salah satu perusahaan
yang berada di Jakarta, tak disangka salah satu impianku akan terwujud. Tetapi kekhawatiranku
muncul kembali karena sebelumnya tidak mendapatkan ijin dari orang tuaku untuk bekerja di
Jakarta.

“pa, Ita boleh berangkat ke Jakarta? Ita diterima di salah satu perusahaan yang ada di Jakarta”.
Rasa penasaran dan rasa takut bercampur menjadi satu di malam hari yang sunyi kala itu.

“tapi kamu di sana tidak akan membuat papa dan mama khawatir kan? Bukannya papa menolak
kamu bekerja dan hidup mandiri, tetapi rasa khawatir papa terhadap kamu sangatlah tinggi,

kamu kan belum punya pengalaman bekerja disana terlebih kamu kan perempuan“. Ucap Papa
sambil mengusap-usap kepalaku.

“insya Allah, Ita bisa jaga diri baik-baik pa, dan selalu memberikan kabar ke mama dan papa”.
“oke papa percaya sama kamu, tetapi ingat jangan salah pergaulan, dan utamakan ibadah. Kapan
kamu berangkat ke Jakarta?”.

“insya Allah, setelah lebaran Ita sudah harus berangkat ke Jakarta pa”.

“sama siapa nanti berangkat ke Jakarta?”.

“Lina Pa” jawabku mengenai teman keberangkatanku ke Jakarta.

“ya sudah di sana jaga diri baik-baik, sekali lagi ingat, tetap utamakan ibadah, papa mama nggak
bisa jaga kamu disana, yang bisa jaga kamu cuma Allah SWT”.

“siap pa” jawabku dengan perasaan bahagia karena papa sudah memberikan ijin kepadaku,
karena rida Allah SWT adalah rida orang tua.

Setelah melewati masa-masa sulit meminta ijin kepada orang tuaku akhirnya impian terbesarku
bekerja di Jakarta akan segera terwujud. Lebaran sudah usai, saatnya aku dan Lina berangkat
ke Jakara, dengan waktu tempuh selama 6 jam perjalanan menggunakan bus, akhirnya kami
sampai juga di Jakarta.

Untuk tempat tinggal selama di Jakarta, kami dibantu Adit untuk mencarikan kontrakan di sekitar kantor tempat kami bekerja nanti, Adit ini adalah salah satu teman SMK kami, Adit sudah 1 bulan lebih awal bekerja di Jakarta, di tempat yang sama dengan tempat kami bekerja. Setibanya di terminal, aku dan Lina langsung menuju ke kontrakan yang sudah ditemukan Adit sebelumnya.

“nanti langsung minta kunci sama ibu kos”.

“ok Dit, terima kasih sudah luangin waktu buat cariin kosan”.

“iya sama-sama, udah dulu ya sampai besok”.

17 Juli 2017 hari pertama aku dan Lina bekerja di PT Brainmatics Cipta Informatika, sebuah
perusahaan yang bergerak di bidang IT training yang namanya sudah cukup terkenal di daerah
Jakarta dan sekitarnya. Perusahaan ini lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal kami sekarang,
jadi setiap harinya aku berangkat dan pulang dengan berjalan kaki, tidak menggunakan
transportasi umum dan alhamdulillah jarang merasakan macetnya Jakarta. 

Hari pertama aku bekerja, proses adaptasi tidak semudah yang aku pikirkan, akan tetapi aku tetap terus mencoba untuk beradaptasi di lingkungan baru. Hari pertama belum banyak pekerjaan yang aku kerjakan, aku bekerja sebagai staf marketing.

“Ita, kamu belajar dulu, untuk sementara kamu di Ruang Ricard Stallman sambil baca-baca
standar operasional prosedur (SOP) yang kita miliki”.

“baik Pak” jawabku terhadap perintah Pak Mansyur yang menjabat sebagai General Manager
PT Brainmatics Cipta Informatika.

Banyak yang harus aku pelajari sebelum aku menawarkan produk atau menjual produk yang
dimiliki oleh perusahaan. Tepat pukul 12.00 WIB waktu jam istirahat untuk karyawan tiba.

“kita mau makan siang apa Nul?” pertanyaan dari Lina sambil memanggil nama bekenku.

“apa ya, kita cari yang murah aja itung-itung ngirit uang saku dari orang tua biar tidak cepat
habis”.

Setiap pagi aku dan Lina melewati parkiran motor dan melihat beberapa pedagang kaki lima
bejualan di sekitar sana.

“eh Lin, kita ke parkiran saja di sana banyak pedagang kaki lima yang berjualan”.
“boleh”.

“aku mau beli siomay, kamu apa terserah pilih aja”.

“aku juga siomay”.
(Setibanya di parkiran motor)

“Bang beli siomay 2 porsi masing-masing 5000 saja bang”.

“di sini satu porsi 10.000 neng”.

“oh gitu bang, aku kira bisa beli 5000, ya sudah aku beli 2 porsi ya bang”.

13.00 WIB sudah waktunya kami kembali bekerja. Aku melanjutkan tugasku yang sebelumnya
yaitu belajar tentang SOP perusahaan. Sambil belajar SOP perusahaan aku membantu beberapa
karyawan yang sedang membutuhkan bantuan entah itu mencetak dokumen atau hal lainnya.

Proses bekerja di hari pertama menurutku belum terasa melelahkan, bel pulang kantor berbunyi
tepat pukul 17.00 WIB, tanda waktu bekerja sudah usai, aku dan Lina beserta teman-teman
yang lain bersiap pulang untuk beristirahat. Malam pertama aku merasakan hidup jauh dari
orang tua, semuanya dilakukan sedirian. Aku harus bisa dan di sini aku tidak sedirian, ada Allah
bersamaku. 

Keesokan harinya, berhubung kamar mandi di kontrakan kami terbatas dan
digunakan bersama-sama dengan penghuni yang lain, jadi untuk mandi kami harus antri, ibarat
kata” siapa cepat dia dapat”.

Selasa, 18 Juli 2017 aku kembali bekerja seperti biasa berjalan melewati jalan yang sama sambil
mendengarkan musik yang ada di playlist musik kesukaanku. Bangun pagi, berangkat pagi
pulang sore, dan mengerjakan hal-hal yang menjadi tanggung jawab seorang marketing, itulah
aktivitas yang aku kerjakan setiap hari.

Sudah satu tahun tepatnya aku bekerja di PT Brainmatics Cipta Informatika, banyak
pengalaman dan pelajaran yang aku dapatkan selama satu tahun ini. Tidak lupa dengan impian
papa, beliau menginginkan aku untuk melanjutkan sekolah yang lebih tinggi atau masuk ke
bangku perkuliahan. 

Alhamdulillah aku mendapatkan beasiswa dari Brainmatics untuk
melanjutkan studi strata satu (S1) di Univesitas Indraprasta, dengan syarat setiap semester aku
harus bisa mendapatkan indeks prestasi (IP) diatas 3,00.

Setelah pulang dari kantor tidak lama kemudian aku mengirim pesan ke papa.
“Assalamualaikum Pa, Ita alhamdulillah dapat beasiswa dari perusahaan untuk kuliah, jadi papa
jangan khawatir, Ita di sini juga melanjutkan sekolah lagi”.

“ya sudah manfaatkan waktu dengan baik, jaga kesehatan dan pola makan, ingat larangan
makan yang membuat kamu sakit, dan jangan pernah kamu coba tinggalkan ibadahmu”.

“siap papa, terima kasih dukungan papa dan mama selama ini, Ita semakin semangat mencari
ilmu dan bekerja keras, hidup lebih mandiri walaupun terkadang Ita masih merepotkan papa”.

Satu persatu impian yang telah aku tulis tercapai atas ijin Allah SWT, dibalik keberhasilan tidak
lepas dari doa dan usaha kita, terutama doa dari orang tua.

Comments

Popular posts from this blog

Pertemuan Jilid 2

Bukan Akhir dari Pertemuan Selang beberapa hari karno mencoba ingin menemui sang cewek yang karno sukai diarea masjid yang biasa karno sama ahmad melakukan sholat. “emmm dimana ya, astaghfirullah ya Allah hamba berjalan ke Masjid berniat untuk beribadah, semoga pertemukanlah hamba kepada orang yang hamba ingin jumpai (Aamiin). Tapi takdir berkata lain, mungkin Allah belum mempertemukan mereka kembali. Sudah seminggu karno beribadah di masjid biasa akan tetapi tidak pernah menjumpainya. “kenapa si No kok lu clingak cllinguk ”, “Itu mad gue nyari itu pengen kenalan keinget omongan lu kemarin”. “Oh.. gitu yauda syukurlah”. “tapi gue nggak pernah liat mad akhir – akhir ini kenapa ya?”, “Ya mungkin lagi ada tamu bulanan jadi nggak ke masjid”,” oh iya ya, ayo balik mad kita kan mau ke kampus”. Sepulang dari kampus karno pun berniat untuk mampir ke Perpustakaan Nasional, “Eh mad lu pulang duluan deh gue mau ke perpus bentar mau baca – baca”, “Yoi..” (Perjalanan M

One day in Yogyakarta

Siapa yang tidak tau kota Yogyakarta atau sering di sebut-sebut Jogja istimewa terkenal dengan khas makanannya yaitu gudeg. Dari kalian pasti sudah pernah berlibur ke kota Yogyakarta untuk melihat ke istimewaan serta keindahan kota tersebut. Pada artikel kali ini aku akan bercerita tentang pengalamanku satu hari di Jogja istimewa. Pasti terdengar konyol kenapa cuma satu hari di Jogja, kenapa nggak satu minggu atau satu bulan untuk menikmati liburan. Ya, aku pun sepemikiran tapi dalam satu hari itu membuat pengalaman yang tidak pernah terlupakan. Bagaimana bisa? 3 tahun yang lalu aku bersama 3 teman ku yaitu Jeje, Pipil, dan Kholil berencana berlibur ke Jogja selama 3 hari dengan mengendarai sepeda motor. Awalnya kedua orang tuaku melarang untuk bepergian ke Jogja karena kami berempat menggunakan transportasi yang tidak masuk akal yaitu sepeda motor. Sedangkan kami berempat masih berstatus siswa smk dan belum menerima surat kelulusan. Wajar saja kalau orang tua mengkhawat

Iman yang Tak Sama

Mencintai adalah landasan dalam sebuah hubungan sepasang kekasih. Tetapi iman yang tak sama membuat hati ini ragu akankah kisah kita berjalan sesuai rencana? Mungkin saling mencintai saja tidak cukup untuk membuat kita saling memiki. Pernikahan hanyalah angan-angan yang tidak akan tersampaikan. Kisah cintaku ingin berakhir bahagia bak cerita novel tapi mungkin iman yang memisahkan. Hai, aku Rachma umurku 21 tahun aku bertemu dengan seseorang yang sangat bisa mengenal diriku. Ringgo, iya dia bernama Ringgo, lelaki baik berparas tampan dan berbadan lebih tinggi dariku. Awal mula pertemuan aku dengan Ringgo pada saat kita sama-sama bekerja disalah satu perusahaan  yang ada di pusat kota.  Ringgo : “Hay, aku Ringgo” Sapaan dengan senyum hangat yang kulihat darinya yang menatap kepadaku. “Hay, Rachma” Balasku sambil melempar senyum manisku kepadanya. Pertemuan singkat yang membuatku salah tingkah dan tidur malamku terjaga. “ya Allah, pertemukan k