Skip to main content

Pertemuan

Pertemuan

“Akhir dari pertemuan”


Sebulan berlalu karno tidak pernah mengunjungi perpustakaan dikarenakan karno sedang sibuk mempersiapkan tugas akhir kuliahnya. 

“No, kita ke perpus yuk” ajakan ahmad 

“Sori Mad gue masih harus menyelesaikan tugas akhir gue minggu depan sidang”

Ahmad pun berangkat ke perpustakaan tanpa Karno, sesudah sampainya di perpustakaan Ahmad melihat Alisa yang sedang duduk membaca buku dan cukup lumayan asik ngobrol dengan teman satu bangkunya.

“Itu Alisa tapi sama siapa yak kok kelihatanya akrab banget, ah gue foto kirim ke Karno siapa tau Karno kenal” (Cekrek bunyi ponsel ahmad saat mengambil gambar Alisa)
Setelah Ahmad selesai mengambil potret Alisa, Ahmad langsung mengirimkan gambar tersebut kepada Karno melalui WhatsApp.

“No ini gue barusan lihat Alisa di Perpus lu kenal nggak siapa cowok itu? Tanya Ahmad

“Engga gue nggak kenal itu siapa, tapi apa urusannya sama gue Mad”

“Oh ya sudah gue kira lu kenal, ah bukanya lu suka sama dia? Atau jangan-jangan lu udah pindah ke lain hati” sontak rasa ingin tau Ahmad terlalu besar

“Apaan si mau tau aja urusan orang”

Tapi siapa ya sebetulnya laki-laki itu, gue harus mastiin ke Alisa siapa sebetulnya laki-laki yang bersamanya. Rasa penasaran Karno lebih besar dari Ahmad.

Keesokan harinya Karno berniat menanyakan hal tersebut ke Alisa saat mereka di pertemukan. Karno pun berniat mengunjungi rumah Alisa tapi Karno masih ada keraguan di hatinya.

“Eh Hari, kalau ada cowok tapi bukan siapa-siapanya(pacar) nanyain hal yang tidak begitu penting ke cewek menurut lu gimana?” tanya Karno sambil mengusap dagunya

“Hal yang tidak penting seperti apa dulu?”

“Semisal gini, eh lu kemarin ke Perpus ya? Terus kok gue lihat asik banget ngbrol sama cowok emang dia siapa? Nah menurut lu gimana?”

“Ya, kalau menurut gue si mending jangan kan bukan siapa-siapanya pake acara nanya begituan yauda gue masuk kelas dulu No” masukan dari Hari sambil meninggalkan karno sendirian di Kantin.
Dari pada penasaran mending gue tanya langsung aja Alisa ke kelasnya.

Tanpa berfikir panjang Karno pergi ke kelas Alisa untuk menanyakan hal tersebut.

“Alisa, gue mau tanya dong lagi sibuk nggak?” tanya Karno sambil melempar senyum genitnya

“Kenapa No, engga kok duduk aja”

“Gimana kabar lu, lama kita tidak bertemu”

“Alhamdulillah baik, kenapa No langsung aja soalnya gue mau buru-buru pulang ada urusan mendesak”

“Oh oke, kemarin lu ke Perpus ya?

“Iya kenapa?”

“Kebetulan gue kemarin ke sana terus mau nyamperin lu eh kok ada cowok duduk di samping lu, itu siapa Al?”

“Oh Dimas”

“Dimas? Siapa Dimas?” Karno makin bingung

“Iya Dimas suami gue, kemarin kebetulan dia ngaterin ke Kampus terus katanya mau nugguin gue sampai pulang jadi dia nunggu di ruang perpustakaan”

“Wah.. suami? Sejak kapan Alisa menikah?” Sontak Karno pun terdiam setelah mendengarkan apa yang di ucapkan Alisa saat itu.

“Hello No, Karno ada lagi nggak yang mau lu tanyain” tanya Alisa sambil melambai-lambaikan tangannya.

“Oh iya udah itu aja makasih ya sori ganggu waktu lu, bye” 

Karno pun meninggalkan ruang kelas Alisa dengan kondisi bingung, kecewa dan sedikit kesal.
Sejak setelah mendengar jawaban dari Alisa yang tidak terduka sampai Karno hilang fokus saat sedang pembelajaran.

“No, pinjem pulpen dong” 

“No, woi kenapa si ini anak bengong mulu dari tadi” Tanya Ahmad

“Kenapa Karno Mad?” Sautan dari Hari setelah mendengar kekesalan Ahmad

“Nggak tau tu Ri nggak jelas, patah hati kali”

Sebetulnya Karno mungkin mendengarkan apa yang mereka bicarakan tapi dengan kondisi yang sangat-sangat buruk bagi dirinya Karno memilih terdiam dan memikirkan apa yang terjadi saat ini.

“Apakah gue baru bangun dari mimpi buruk?” Karno bertanya pada diri sendiri

Seminggu kemudian setelah kejadian itu Karno baru tersadar bahwa mungkin Alisa bukan jodohya.

“Mungkin gue harus melupakan Alisa, dia sudah bahagia bersama pilihannya” Karno meyakinkan diri sendiri sambil sedikit tersenyum

Karno kembali bersemangat dan tidak ingin membuang-buang waktu buat memikirinkan hal yang tidak harus di pikirkan. 

Sudah mendekati hari di mana Karno harus melakukan sidang skripsi S1 nya.

“No, sendirian aja di mari kapan lu sidang?” tanya hari di teras kantin

“Eh Ri, 2 hari lagi bismillah”

“Semangat No, lu pasti bisa”

“Thank’s Ri”

Setelah selesai makan di Kantin Karno langsung kembali ke kelasnya untuk melanjutkan mata kuliah selanjutnya.


Hari yang menegangkan buat Karno, iya betul hari sidang sudah tiba.

“Bismillah semoga lancar” Penguatan terhadap diri sendiri 

Setelah menyelesaikan sidangnya Karno pun merasa lega sidangnya berjalan lancar.

“Gimana No sidangnya lancar?” tanya Ahmad

“Alhamdulillah lancar Mad, gue balik dulu ya” Jawab karno sambil berisap-siap untuk pulang

Satu bulan kemudian Karno merayakan ke lulusan S1 Teknik Informatika di salah satu Universitas yang ada di Jakarta. Setelah lulus Karno kembali melanjutkan hidupnya menjadi seorang karyawan di salah satu perusahaan di Jakarta yang bergerak di bidang IT Training.

Karno dikenal pribadi yang cukup baik dan pintar di Perusahaan tersebut makanya tidak heran kalau karno sudah bekerja kurang lebih 4 sampai 5 tahun di perusahaan tersebut.

Comments

  1. to author.... wah kasihan banget ya Karno... lagi diincer, eh ditinggal nikah... kayaknya jodohnya mungkin bukan di Jakarta sih thor ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga Karno yang di dalam cerita tidak sama nasibnya dengan Karno Nur Cahyo ya :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pertemuan Jilid 2

Bukan Akhir dari Pertemuan Selang beberapa hari karno mencoba ingin menemui sang cewek yang karno sukai diarea masjid yang biasa karno sama ahmad melakukan sholat. “emmm dimana ya, astaghfirullah ya Allah hamba berjalan ke Masjid berniat untuk beribadah, semoga pertemukanlah hamba kepada orang yang hamba ingin jumpai (Aamiin). Tapi takdir berkata lain, mungkin Allah belum mempertemukan mereka kembali. Sudah seminggu karno beribadah di masjid biasa akan tetapi tidak pernah menjumpainya. “kenapa si No kok lu clingak cllinguk ”, “Itu mad gue nyari itu pengen kenalan keinget omongan lu kemarin”. “Oh.. gitu yauda syukurlah”. “tapi gue nggak pernah liat mad akhir – akhir ini kenapa ya?”, “Ya mungkin lagi ada tamu bulanan jadi nggak ke masjid”,” oh iya ya, ayo balik mad kita kan mau ke kampus”. Sepulang dari kampus karno pun berniat untuk mampir ke Perpustakaan Nasional, “Eh mad lu pulang duluan deh gue mau ke perpus bentar mau baca – baca”, “Yoi..” (Perjalanan M

One day in Yogyakarta

Siapa yang tidak tau kota Yogyakarta atau sering di sebut-sebut Jogja istimewa terkenal dengan khas makanannya yaitu gudeg. Dari kalian pasti sudah pernah berlibur ke kota Yogyakarta untuk melihat ke istimewaan serta keindahan kota tersebut. Pada artikel kali ini aku akan bercerita tentang pengalamanku satu hari di Jogja istimewa. Pasti terdengar konyol kenapa cuma satu hari di Jogja, kenapa nggak satu minggu atau satu bulan untuk menikmati liburan. Ya, aku pun sepemikiran tapi dalam satu hari itu membuat pengalaman yang tidak pernah terlupakan. Bagaimana bisa? 3 tahun yang lalu aku bersama 3 teman ku yaitu Jeje, Pipil, dan Kholil berencana berlibur ke Jogja selama 3 hari dengan mengendarai sepeda motor. Awalnya kedua orang tuaku melarang untuk bepergian ke Jogja karena kami berempat menggunakan transportasi yang tidak masuk akal yaitu sepeda motor. Sedangkan kami berempat masih berstatus siswa smk dan belum menerima surat kelulusan. Wajar saja kalau orang tua mengkhawat

Iman yang Tak Sama

Mencintai adalah landasan dalam sebuah hubungan sepasang kekasih. Tetapi iman yang tak sama membuat hati ini ragu akankah kisah kita berjalan sesuai rencana? Mungkin saling mencintai saja tidak cukup untuk membuat kita saling memiki. Pernikahan hanyalah angan-angan yang tidak akan tersampaikan. Kisah cintaku ingin berakhir bahagia bak cerita novel tapi mungkin iman yang memisahkan. Hai, aku Rachma umurku 21 tahun aku bertemu dengan seseorang yang sangat bisa mengenal diriku. Ringgo, iya dia bernama Ringgo, lelaki baik berparas tampan dan berbadan lebih tinggi dariku. Awal mula pertemuan aku dengan Ringgo pada saat kita sama-sama bekerja disalah satu perusahaan  yang ada di pusat kota.  Ringgo : “Hay, aku Ringgo” Sapaan dengan senyum hangat yang kulihat darinya yang menatap kepadaku. “Hay, Rachma” Balasku sambil melempar senyum manisku kepadanya. Pertemuan singkat yang membuatku salah tingkah dan tidur malamku terjaga. “ya Allah, pertemukan k