Skip to main content

Love in silence




Mungkin bagi sebagian orang pernah merasakan hal seperti ini. Menyukai seseorang tetapi tidak bisa memilikinya.

Sama halnya dengan cerita yang aku tulis kali ini  bercerita tentang perjalanan hidup sampai kisah asmara dari seorang gadis bernama Rika.

Rika mempunyai paras yang cantik, cerdas dan gesit saat mengerjakan suatu pekerjaan dan Rika dikenal memiliki sikap yang angkuh dan dingin.

Bekerja di Perusahaan besar merupakan pencapaian yang sangat berharga.

Melihat dari latar belakang Pendidikan Rika yang mungkin ia berfikir tidak dapat bekerja di Perusahaan-perusahaan besar yang ada di Kota.

Tetapi Rika tidak patah semangat dengan melihat latar belakang pendidikannya. Rika terus mencoba mendaftar pekerjaan di beberapa perusahaan besar yang ada di Jakarta.

2 Bulan kemudian Rika pun berhasil di terima untuk bekerja di salah satu perusahaan yang dimana ia sebelumnya mencoba menempatkan CV. Posisi yang Rika dapat dalam pekerjaanya yaitu sebagai karyawan penerima surat keluar dan masuk.

Rika tumbuh besar bersama sang nenek. Pada saat ia berumur 5 tahun Rika sudah di tinggalkan oleh kedua orang tuanya.

Rika bersama sang nenek tinggal di Kawasan komplek menengah ke bawah. Rika bekerja keras untuk bertahan hidup dan menghidupi sang Nenek serta melunasi hutang ke pada seorang rentenir.

Kedua orang tuanya tidak hanya meninggalkan Rika, mereka juga meninggalkan hutang yang sangat besar nominalnya ke salah satu rentenir bernama Roni.

Roni dikenal rentenir jahat dan kejam. Pada saat Rika tidak mampu memberikan cicilan ke Roni maka cacian dan pukulan yang Rika dapatkan.

Apapun pekerjaan yang mengasilkan uang pasti Rika jalani untuk bertahan hidup.

Rika tidak hanya bekerja sebagai karyawan kantor saja. Ia melakukan  pekerjaan paruh waktu di setiap restoran yang membutuhkan tenaga kerja tambahan.

Rika bersama satu temannya bernama Bram pergi untuk makan malam.

“Apa yang sekarang kamu kerjakan Rika?” Tanya Bram sambil menyantap makanan yang ada di depannya

“Bekerja, Bekerja dan Bekerja” Saut Rika sambil menatap ke arah pintu resto

“Apa yang sedang kamu lihat? ini makanlah” Baram pun mengalihkan pandangannya ke arah belakang tepat apa yang Rika lihat.

“Ah sudahlah tidak usah bekerja paruh waktu, aku tidak pernah melihatmu tertidur dengan pulas”

“Untuk apa aku tidur kalau aku tidak lelah” Rika menjawab dan meninggalkan Bram sendiri di restoran

“Hey Rika, mau kemana?”

Senin, 16 maret 2020 hari dimana Rika mulai bekerja di Perusahaan tersebut.

Suatu ketika saat Rika sedang menyelesaikan pekerjaanya Zayn salah satu karyawan yang ada di perusahaa tersebut menghapiri meja Rika.

“Hay, kamu baru di sini? Salam kenal saya Zayn” sapa hangat dari Zayn sambil mengulurkan tangannya

“emm, Rika” jawab Rika sambil meninggalkan Zayn yang sedang berada di depan meja Rika

Zayn tidak tampak kesal karena uluran tangannya tidak di balas oleh Rika. Zayn semakin penasaran siapa sosok Rika yang bersikap dingin dan angkuh.

Tepat pukul 17.00 WIB waktu dimana kegiatan perkantoran selesai dan beristirahat ke rumah masing-masing.

Zayn yang sedang berjalan menuju kereta bawah tanah atau yang sering di sebut MRT di pertengahan jalan melihat Rika yang sedang berjalan ke arah dan tujuan yang sama.

“Rika, mau pulang? Bagaimana kalau kita mampir untuk ngopi sebentar?” Ajakan Zayn kepada Rika.

“Iya, tidak saya sudah ada janji lain kali saja”

“Ok baiklah”

Setelah pulang dari kantor Rika pun melanjutkan pekerjaan paruh waktu hingga larut malam.

Rika bekerja di bagian dapur untuk mencuci piring bekas makan dan minum. Makanan sisa  pengunjung yang masih bisa di makan ia bungkus kembali untuk dimakan di rumah bersama sang nenek.

Sepulang dari kerja paruh waktunya Roni pun sudah berada di depan rumah Rika untuk meminta uangnya.

“Hah, dari mana saja jam segini baru pulang”  Ucap Roni

Rika tidak menjawab pertanyaan Roni dan langsung melempar sebagian uangnya ke Roni.

“Cuma segini? Bekerjalah yang keras agar kau bisa melunasi hutang kedua orang tuamu” Roni meninggalkan Rika sambil meneput jidat Rika dengan tangan kanannya.

Rika pulang membawa makan malam untuk sang nenek. Mereka berdua pun makan malam bersama dan beristirahat.

Ke esoka harinya Rika pun kembali melakukan rutinitasnya sebagai seorang karyawan kantor. Rika memberikan beberapa surat yang masuk ke karyawan staff lainnya termasuk Zayn.

Rika pun mengahimpiri meja Zayn untuk mengantarkan surat yang masuk.

“Traktir saya makan malam” Ucap Rika dengan nada datar sambil menaruh suratnya di atas meja
Zayn pun merasa bingung, kenapa tiba-tiba Rika mengajak makan malam bersama.

Tetapi Zayn pun menyetujui ajakan Rika.

Sepulang bekerja mereka pun berjalan bersama sampai ke restoran yang berada di sekitar kantor.

“Selamat datang” Sapaan pelayan yang ada di restoran tersebut

Sesampainya di restoran mereka berdua masih diam belum ada pembicaraan yang di bahas.

“Oo, mau pesan apa?” tawaran Zayn untuk Rika

“Makanan yang lezat dan mahal yang belum pernah saya makan”

Zayn pun memesankan beberapa makanan yang sangat lezat. Setelah makanan datang Rika pun langsung menyantap makanan tersebut.

Zayn tidak memakan ia hanya memandangi Rika yang sedang asik makan seperti orang kelaparan.

“Apakah kamu belum pernah memakan makanan ini?”

Rika tidak menjawab pertanyaan Zayn hanya menatap dan melanjutkan makannnya.

Setelah selesai menyantap makanannya Rika pun mengajukan beberapa pertanyaan ke Zayn.

“Kenapa kamu selalu terlihat gelisah dan kesepian?”

“Padahal dengan gaji  di atas 10juta/bulan masih tidak membuatmu Bahagia?”

Beberapa menit Zayn terdiam sambil meletakan gelas yang ada di tangannya.

“emm, tidak seperti yang kamu bayangkan jika sudah selesai mari kita pulang”  Ujar Zayn

Di tengah perjalanan Zayn menanyakan sesuatu kepada Rika.

“Apa pekerjaan orang tua mu?”

Rika pun menghentikan langkah kakinya dan terdiam sambil menatap Zayn.

“Apa pekerjaan orang tua mu?”

“Apakah itu hal yang sopan untuk di pertanyakan? Menanyakan hal pribadi ke orang lain yang belum saling mengenal?” Rika balik bertanya

“Maaf”

Mereka melanjutkan perajalannya menuju rumah masing-masing kebetulan komplek rumah Zayn searah dengan komplek Rika.

Zayn pun mengantarkan Rika sampai di depan kompleknya.

Sebulan berlalu mereka berdua pun akhirnya menjalin hubungan yang baik setiap sepulang bekerja ia meluangkan waktu bersama untuk makan malam bahkan sebatas minum kopi.

Pada suatu hari Rika ingin menyatakan perasaanya ke Zayn bahwa ia memiliki perasaan yang berbeda saat di dekatnya. Tapi Rika memikirkan sesuatu hal akankah perasaanku ini terbalaskan?

Malam hari saat mereka berdua makan malam bersama Rika mengajukan pertanyaan ke pada Zayn.

“Akankah orang sepertiku mendapatkan orang baik sepertimu?”

“omong kosong apa ini? Tentu saja jauh lebih baik kamu akan mendapatkannya” Jawab Zayn

“kenapa tiba-tiba kamu ngomong seperti itu?”

“Oo, bukan apa-apa sudah lupakan”

Rika pun lebih memilih memendam perasaanya dan lebih memilih menjalin hubungan pertemanan.

Tidak mudah bagi Rika untuk mengatakannya mungkin ada hal buruk akan terjadi apabila ia megatakannya.

Rika tidak ingin Zayn menjauh darinya setelah mendengar perasaan Rika sebenarnya.

Lebih baik di pendam tetapi masih tetap bersamanya daripada Zayn mengetahui apa isi hati Rika sebenarnya dan Zayn menjauh darinya.

Padahal bisa jadi Zayn juga mempunyai persanaan yang sama seperti Rika akan tetapi Ia juga tidak berani menyatakan dan hal yang sama di pikirkan oleh Zayn.

Satu tahun berlalu hutang Rika ke Roni pun sudah terbayar dan pertemanan dengan Zayn pun masih terjalin.

Rika yang dulu memiliki sikap dingin dan angkuh kini sudah berubah menjadi Rika yang mau bergaul dengan orang yang ada di lingkungan sekitar.

Hidup Rika kini jauh lebih baik dari sebelumnya berkat kerja kerasnya serta dukungan dan bimbingan Zayn untuknya.

Comments

Popular posts from this blog

Pertemuan Jilid 2

Bukan Akhir dari Pertemuan Selang beberapa hari karno mencoba ingin menemui sang cewek yang karno sukai diarea masjid yang biasa karno sama ahmad melakukan sholat. “emmm dimana ya, astaghfirullah ya Allah hamba berjalan ke Masjid berniat untuk beribadah, semoga pertemukanlah hamba kepada orang yang hamba ingin jumpai (Aamiin). Tapi takdir berkata lain, mungkin Allah belum mempertemukan mereka kembali. Sudah seminggu karno beribadah di masjid biasa akan tetapi tidak pernah menjumpainya. “kenapa si No kok lu clingak cllinguk ”, “Itu mad gue nyari itu pengen kenalan keinget omongan lu kemarin”. “Oh.. gitu yauda syukurlah”. “tapi gue nggak pernah liat mad akhir – akhir ini kenapa ya?”, “Ya mungkin lagi ada tamu bulanan jadi nggak ke masjid”,” oh iya ya, ayo balik mad kita kan mau ke kampus”. Sepulang dari kampus karno pun berniat untuk mampir ke Perpustakaan Nasional, “Eh mad lu pulang duluan deh gue mau ke perpus bentar mau baca – baca”, “Yoi..” (Perjalanan M

One day in Yogyakarta

Siapa yang tidak tau kota Yogyakarta atau sering di sebut-sebut Jogja istimewa terkenal dengan khas makanannya yaitu gudeg. Dari kalian pasti sudah pernah berlibur ke kota Yogyakarta untuk melihat ke istimewaan serta keindahan kota tersebut. Pada artikel kali ini aku akan bercerita tentang pengalamanku satu hari di Jogja istimewa. Pasti terdengar konyol kenapa cuma satu hari di Jogja, kenapa nggak satu minggu atau satu bulan untuk menikmati liburan. Ya, aku pun sepemikiran tapi dalam satu hari itu membuat pengalaman yang tidak pernah terlupakan. Bagaimana bisa? 3 tahun yang lalu aku bersama 3 teman ku yaitu Jeje, Pipil, dan Kholil berencana berlibur ke Jogja selama 3 hari dengan mengendarai sepeda motor. Awalnya kedua orang tuaku melarang untuk bepergian ke Jogja karena kami berempat menggunakan transportasi yang tidak masuk akal yaitu sepeda motor. Sedangkan kami berempat masih berstatus siswa smk dan belum menerima surat kelulusan. Wajar saja kalau orang tua mengkhawat

Iman yang Tak Sama

Mencintai adalah landasan dalam sebuah hubungan sepasang kekasih. Tetapi iman yang tak sama membuat hati ini ragu akankah kisah kita berjalan sesuai rencana? Mungkin saling mencintai saja tidak cukup untuk membuat kita saling memiki. Pernikahan hanyalah angan-angan yang tidak akan tersampaikan. Kisah cintaku ingin berakhir bahagia bak cerita novel tapi mungkin iman yang memisahkan. Hai, aku Rachma umurku 21 tahun aku bertemu dengan seseorang yang sangat bisa mengenal diriku. Ringgo, iya dia bernama Ringgo, lelaki baik berparas tampan dan berbadan lebih tinggi dariku. Awal mula pertemuan aku dengan Ringgo pada saat kita sama-sama bekerja disalah satu perusahaan  yang ada di pusat kota.  Ringgo : “Hay, aku Ringgo” Sapaan dengan senyum hangat yang kulihat darinya yang menatap kepadaku. “Hay, Rachma” Balasku sambil melempar senyum manisku kepadanya. Pertemuan singkat yang membuatku salah tingkah dan tidur malamku terjaga. “ya Allah, pertemukan k