Sharpness of the tongue






Mungkin bagi kebanyakan orang seringkali berbicara tanpa berfikir terlebih dahulu. Apakah yang kita ucapkan akan membahayakan diri sendiri atau orang lain.

Ada seorang bernama Rosa ia tinggal di Jl dd Menteng Dalam, Jakarta Selatan. Ia tinggal bersama 1 temannya yang bernama Jannah. Mereka berdua bekerja di salah satu Perusahaan IT yang ada di Jakarta.

Sudah 3 Tahun mereka menghabiskan waktu bersama. Mereka tidak hanya bekerja mereka juga sedang berada di bangku kuliah semester 4 Teknik Informatika di salah satu Universitas yang ada di Jakarta.

Suatu ketika Rosa dan Jannah sedang ingin mencari rumah makan untuk makan malam mereka dan  pergi dengan mengendarai sepeda motor.

“Sini biar aku saja yang nyetir” Ujar Jannah sambil merampas kunci yang ada di tangan Rosa

“Baiklah…” Jawab santai dari Rosa

Di perjalanan menuju Rosa pun sering mengingatkan Jannah agar mengendarai motor berhati-hati.

Agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan seperti kecelakaan lalu lintas.

“Sudahlah tidak usah menyalip-nyalip aku takut” Ucap Rosa sambil memegang erat pundak Jannah

“Sudah diam saja yang penting kita sampai”

Rosa pun tidak bisa membantah jawaban Jannah karena nanti akan menimbulkan keributan dan tidak jadi makan malam.

Jannah memang sering melakukan hal gila pada saat mengendarai motor. Dia sering menyelip mobil atau truck yang ada di depannya agar mempercepat perjalanannya untuk sampai ke tempat tujuan.

Maka tidak heran kalau mereka berdua sering cek-cok pada saat di perjalanan. Keesokan harinya Rosa ingin pergi ke salah satu toko buku untuk membeli buku.

“Mau ikut tidak aku mau ke toko buku” ajakan Rosa ke Jannah

“Ngapain? Nanti sudah sampai sana tidak jadi beli”

“Yasudah kalau tidak mau, kalau mau buruan mandi”

Jannah sepertinya menolak ajakan Rosa, tetapi 5 menit kemudian Jannah beranjak ke kamar mandi.

“Udah mandinya? Jadi ikut?” Ucap Rosa

“Iya, iya ikut lagian juga dari pada bosan di kos sendiri”

Akhirnya mereka berdua pergi bersama ke toko buku.

“Sini aku aja yang di depan kamu belakang suka deg-degan kalau kamu di depan” Rosa mengambil kunci yang ada di tangan Jannah

“huu dasar penakut”

Rosa tidak pernah mengendari sepeda motor dengan kecepatan di atas 60Km karena Rosa pernah mengalami sebuah kecalakaan pada waktu ia duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan.

Kejadian itu berarti sudah 5 tahun yang lalu dan menjadikan trauma tersendiri oleh Rosa.

Kecelakaan itu membuat kaki kanan Rosa luka lumayan parah dan sampai saat ini masih ada bekas luka jahit yang ada di kaki Rosa.

Rosa memliki rasa trauma tersendiri  ia merasakan ketakutan pada saat di bonceng waktu mengendarai sepeda motor karena akibat kecelakaan  5 tahun silam.

Memang sulit untuk menghapus kenangan buruk yang sudah terjadi akan tetapi Rosa tetap harus menjalani hidup dengan rasa trauma yang ia alami.

Pada saat perjalan menuju toko buku Jannah pun terus meledek Rosa karena ia tidak melaju bisa melaju dengan kecepatan tinggi dan tidak berani menyalip mobil yang ada di depannya.

“Yah payah nyalip saja tidak berani” Ujar Jannah sambil menepuk pundak Rosa

“Ah brisik tinggal duduk saja banyak omong”

Setelah 15 menit perjalanan ke toko buku akhirnya sampai juga.

“Mau tunggu depan atau ikut masuk?” Ajakan Rosa pada saat di parkiran

“Ikutlah masak iya jadi tukan parkir jagain motor”

Lalu mereka berdua memasuki toko buku, setelah menghabiskan waktu cukup lama di toko buku akhirnya Rosa menemukan buku yang akan ia beli.

“Nah ini buku yang aku cari, hey Jannah ayo ke kasir setelah itu pulang”

Jannah yang sedang asik membaca resep masakan pun harus berhenti dan tidak bisa melanjutkan membacanya karena dia tidak membeli cuman membaca saja di toko buku. Hehehe

Setelah selesai dari toko buku Rosa pun memberikan kunci motornya ke Jannah untuk bergantian mengendarai sepeda motornya.

“Ini kuncinya gentian kamu di depan”

Mereka berdua sering melakukan hal seperti itu kalau berangkatnya Rosa yang mengendarai berarti pulangnya Jannah yang akan mengendarai.

Itu mereka lakukan sudah sejak 3 tahun yang lalu sampai saat ini.

Jannah pun mengendarai dengan senang hati dan ia pun kembali beraksi di perjalanannya.  Tau sendiri kan Jannah suka melaju di kecepatan tinggi.

Setelah melakukan perjalanan yang melelahkan dan penuh dengan rasa ketakukan akan hal yang akan terjadi akhirnya sampai juga di kos.

“Lain kali jangan ngebut dong di jalanan kan kamu pasti sudah tau hal yang paling aku takutkan” Ujar Rosa sambil membuka pintu

“Kan biar cepat sampai tidak kayak kamu lama kalau di jalan”

“Biarin si kamu belum pernah merasakan kecelakaan lalu lintas parah hingga membekas lukanya hingga sekarang kan? Coba kamu merasakan hal yang pernah aku rasakan 5 tahun yang lalu, kamu akan merasakan hal yang sama sepertiku”

Seolah-olah kata-kata itu muncul tanpa kesengajaan, mungkin Rosa sedang terpancing emosi soal omongan Jannah yang seolah-olah merendahkannya yang tidak bisa melaju di kecepatan tinggi pada saat mengendarai.

Satu minggu kemudian tepatnya Sabtu, 06 Maret 2020 Rosa dan Jannah melakukan aktvitasnya sebagai mahasiswa.

Rosa dan Jannah berangkat pukul 07.30 padahal jam perkuliahan di mulai 07.30.

Rosa dan Jannah terlambat bangun karena mungkin semalam mereka berdua kurang jam tidurnya maka dari itu mereka terlambat datang ke kampus.

“Sini biar aku saja yang di depan biar cepat sampai”

Rosa pun memberikan kuncinya kepada Jannah, sulit bagi Rosa karena ia sudah tau bahwa jalanan menuju kampus sangatlah ramai dan berada di jalan yang sempit.

Rasa ketakutan Rosa pun terjadi pada saat mereka berada di Jl Batu Ampar sudah dekat dengan kampus mereka. Hal yang tidak di inginkan pun terjadi.

Kebiasaan Rosa pada saat di bonceng ia tidak pernah melihat kearah depan, ia lebih melihat kearah kanan dan kiri karena bagi Rosa pada saat di bonceng  melihat ke arah depan membuat ia teringat kejadian 5 tahun silam.

Pada suatu ketika Rosa yang sedang asik menikmati perjalanannya sambil melihat di sekelilingnya tiba-tiba bunyi klakson motor pun terdengar sangat keras dan jelas di telinga.

Karena mengdengar bunyi klakson yang sangat keras Rosa pun mengalihkan pandangannya kearah depan dan seketika motor melaju dari depan dengan kencangnya dan menabrak motor yang Rosa dan Jannah tumpangi.

“Piiippp, gubrakkkk” Tabrakan yang sangat kencang sampai melukai pelipis mata Rosa.

Pandangan Rosa pun kabur tidak melihat dan mendengarkan apa yang ada di sekeliling. Kejadian 5 tahun silam kini terjadi lagi.

Rosa hanya terdiam sambil memikirkan apa yang sekarang terjadi, ia mengusap darah yang terus mengalir dari pelipis matanya.

“Darah, kenapa darah ini banyak sekali?” Rosa pun mencoba menghentikan darahnya dengan jarinya sambil meneteskan air mata yang bercampur dengan darah

“Itu darah semua, please jangan nangis Rosa” Ujar Jannah sambil memandangi muka Rosa yang penuh dengan darah

Warga di sekitar pun berusaha menolong Rosa dan Jannah hingga sang pelaku ang menabrak mereka berdua sampai bertanggung jawab apa yang telah pelaku lakukan.

“Woi Bapak harus bertanggung jawab, Bapak yang berada di jalur yang salah” Ucap salah satu warga yang berusaha menolong Rosa dan Jannah

Bapak sang pelaku pun bertanggung jawab dan membawa Rosa ke Rumah Sakit Unit Darurat untuk mengobati luka Rosa.

Akhirnya Rosa pun menjalani penangan dokter dan luka yang ada di pelipis matanya berhasil di jahit hingga 3 jahitan.

Setelah melewati peristiwa itu semua Rosa pun kembali mengingat kata-katanya 1 minggu yang lalu bahwa ia berkata dengan Jannah “Coba kamu merasakan apa yang aku rasakan 5 tahun silam pasti kamu akan merasakan apa yang aku rasakan”.

Akhirnya ucapan itu pun terjadi dan pada saat bersamaan dengan dirinya.

Betul memang apa kata pepatah “Mulutmu Harimaumu” jadi pelajaran yang dapat di ambil dari peristiwa itu mungkin sebelum kita mengucapkan sesuatu, sebaiknya kita berfikir terlebih dahulu.

Comments

Popular posts from this blog

Pertemuan Jilid 2

Tips Solo Traveling

Pertemuan