Skip to main content

Iman yang Tak Sama


Mencintai adalah landasan dalam sebuah hubungan sepasang kekasih. Tetapi iman yang tak sama membuat hati ini ragu akankah kisah kita berjalan sesuai rencana?

Mungkin saling mencintai saja tidak cukup untuk membuat kita saling memiki. Pernikahan hanyalah angan-angan yang tidak akan tersampaikan.

Kisah cintaku ingin berakhir bahagia bak cerita novel tapi mungkin iman yang memisahkan.

Hai, aku Rachma umurku 21 tahun aku bertemu dengan seseorang yang sangat bisa mengenal diriku. Ringgo, iya dia bernama Ringgo, lelaki baik berparas tampan dan berbadan lebih tinggi dariku.

Awal mula pertemuan aku dengan Ringgo pada saat kita sama-sama bekerja disalah satu perusahaan 
yang ada di pusat kota. 

Ringgo : “Hay, aku Ringgo”

Sapaan dengan senyum hangat yang kulihat darinya yang menatap kepadaku.

“Hay, Rachma”
Balasku sambil melempar senyum manisku kepadanya.

Pertemuan singkat yang membuatku salah tingkah dan tidur malamku terjaga.

“ya Allah, pertemukan kembali aku dengan lelaki itu” Do’a yang ku panjatkan disepertiga malamku.

Semoga do’aku terjawab dan aku kembali dipertemukan olehnya.

Keesokan harinya aku kembali melakukan akivitasku untuk bekerja dengan transportasi bus yang 
setiap harinya aku lakukan.

Setalah sampai di halte yang aku tuju tiba-tiba saat aku turun dari bus aku melihat Ringgo dari sebrang jalan.

“Ringgo…” Batinku berbicara memanggil namanya saat melihat dirinya dari kejauhan.

Semakin dekat rasa penasaran ini semakin kuat.

“Apakah aku harus memulai menyapa dirinya?”

“ah, tidak, tidak aku kan wanita tak seharusnya aku bersikap seperti itu” 

Hati yang berbicara dan tak bisa mengalahkan egoku.

Saat aku terus menatapnya, Ringgo kembali menatap ke arahku sepertinya Ringgo tau aku tak henti-
hentinya menatap dirinya.

“Ada yang ingin kamu sampaikan?” Tanya Ringgo yang menghentikan jejak langkahku.

“Oo, tidak, tidak ada apa-apa” Jawabku yang tidak sejalan dengan pemikiranku.

“Baiklah”  Ujar Ringgo sembari melanjutkan perjalanannya.

“Syukurlah, aku tidak terlihat sangat gugup didepannya” aku terus berbicara dengan sendirinya.
Sampailah di Kantor di mana tempat aku bekerja.

“Selamat Pagi” Sapaan dari pegawai receptionis
Sesampai di meja kerjaku aku duduk dengan nafas terbata-bata.

“Ada masalah apa?” Tanya Angle yang muncul dari bilik meja yang ada di sampingku.

“Ah, mengagetkanku saja, em tidak ada apa-apa” jawabku dengan nafas yang tidak stabil.

“Kenapa nafasmu seperti dikerja seseorang?”

“Aa.. tadi aku sempat berlari setelah turun dari bus menuju ke kantor”

“Ayo kita beli kopi” Ajakku untuk mengalihkan pembicaraan sebelumnya.
Aku dan Angle pun pergi untuk membeli kopi yang berada di lantai dasar. 

“es americano 2” Angle memesankan kopi untukku dan dirinya

“Weekend ini kamu mau kemana?”

“Hei, Rachma kenapa kamu ini?”

“Oo, kenapa? Sori tadi aku melamun” Jawabku yang kebingungan 

“aish, sudahlah lupakan”
Setelah membeli kopi kita berdua kembali menuju ke lantai 2 di mana kantor kita berada.

“Eh, tunggu…” 

Aku mendengar seseorang yang berteriak ke arah lift yang sedang kita tumpangi dan aku menahan pintu yang akan tertutup.

Pintu lift kembali terbuka dan ternyata suara itu benar adanya.

“terima kasih, oh Rachma” 

Pria yang berteriak ternyata Ringgo.

Aku pun membalas dengan senyuman, Angle tak henti-hentinya membisikan sesuatu di telingaku.

“Siapa dia?”

“Hei, Rachma bolehkah aku berkenalanan dengannya?”

“Tampan sekali wajah pria itu”

Setelah lift itu berhenti di lantai yang kita tuju aku pun bergegas keluar dari lift.

“hei, dengarkan aku”

“siapa dia Rachma” 

Angle yang tidak ada hentinya bertanya kepadaku.

“Aish.. sudah cukup”

“kamu terus mengangguku”

Ucapku penuh dengan kekesalan karena pertanyaan yang bertubi-tubi di lontarkan oleh Angle.

Seharian penuh aku bekerja sudah waktunya pulang dan aku pun bersiap-siap merapihkan meja kerjaku.

Aku berlari menuju halte agar tidak tertinggal bus terkahir yang menuju ke rumahku.

“Huff, akhirnya sampai juga” ujarku sembari menata nafasku yang tidak stabil 

Saat aku menengok ke arah kiri tiba-tiba Ringgo ada di sebelah kiriku.

“Rachma, kenapa nafasmu sangat kencang sekali?” Sapa Ringgo kepadaku

“hehe, tidak apa-apa tadi sempat berlari menuju ke sini agar tidak tertinggal”

“Oo, kita naik bus yang sama, sudah tiba ayo kita naik”

Aku dan Ringgo duduk bersebelahan, kita pun saling bertukar cerita selama perjalanan.

Sesampainya di halte yang aku tuju tiba-tiba Ringgo melontarkan sesuatu ucapan.

“Sampai jumpa besok” Ujar dia sambil melambaikan tangannya dengan senyum yang seidikit berbeda.

"Kenapa tatapan dan senyuman Ringgo kali ini terasa sangat jauh berbeda dari sebelum-sebelumnya" Rasa penasaran menghantui isi kepalaku.

>>to be continued<<

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pertemuan Jilid 2

Bukan Akhir dari Pertemuan Selang beberapa hari karno mencoba ingin menemui sang cewek yang karno sukai diarea masjid yang biasa karno sama ahmad melakukan sholat. “emmm dimana ya, astaghfirullah ya Allah hamba berjalan ke Masjid berniat untuk beribadah, semoga pertemukanlah hamba kepada orang yang hamba ingin jumpai (Aamiin). Tapi takdir berkata lain, mungkin Allah belum mempertemukan mereka kembali. Sudah seminggu karno beribadah di masjid biasa akan tetapi tidak pernah menjumpainya. “kenapa si No kok lu clingak cllinguk ”, “Itu mad gue nyari itu pengen kenalan keinget omongan lu kemarin”. “Oh.. gitu yauda syukurlah”. “tapi gue nggak pernah liat mad akhir – akhir ini kenapa ya?”, “Ya mungkin lagi ada tamu bulanan jadi nggak ke masjid”,” oh iya ya, ayo balik mad kita kan mau ke kampus”. Sepulang dari kampus karno pun berniat untuk mampir ke Perpustakaan Nasional, “Eh mad lu pulang duluan deh gue mau ke perpus bentar mau baca – baca”, “Yoi..” (Perjalanan M

One day in Yogyakarta

Siapa yang tidak tau kota Yogyakarta atau sering di sebut-sebut Jogja istimewa terkenal dengan khas makanannya yaitu gudeg. Dari kalian pasti sudah pernah berlibur ke kota Yogyakarta untuk melihat ke istimewaan serta keindahan kota tersebut. Pada artikel kali ini aku akan bercerita tentang pengalamanku satu hari di Jogja istimewa. Pasti terdengar konyol kenapa cuma satu hari di Jogja, kenapa nggak satu minggu atau satu bulan untuk menikmati liburan. Ya, aku pun sepemikiran tapi dalam satu hari itu membuat pengalaman yang tidak pernah terlupakan. Bagaimana bisa? 3 tahun yang lalu aku bersama 3 teman ku yaitu Jeje, Pipil, dan Kholil berencana berlibur ke Jogja selama 3 hari dengan mengendarai sepeda motor. Awalnya kedua orang tuaku melarang untuk bepergian ke Jogja karena kami berempat menggunakan transportasi yang tidak masuk akal yaitu sepeda motor. Sedangkan kami berempat masih berstatus siswa smk dan belum menerima surat kelulusan. Wajar saja kalau orang tua mengkhawat