Skip to main content

Iman Tak Sama Jilid 2




Setelah turun dari bus yang aku tumpangi bersama dia tak henti-hentinya aku memikirkan sikap Ringgo kepadaku hari ini

“Ada apa dengan dia sebenarnya, sikapnya sangat aneh padahal kita tidak begitu dekat”


“Ah sudahlah, tidak penting untuk dipikirkan” Batinku berbicara.

Malamku terjaga saat memikirnkan kejadian sore tadi.

Satu minggu berlalu aku tidak melihat dia bahkan kabarnya pun aku tidak mendengar. Sebenarnya apa yang sedang terjadi.

Tiba-tiba ponselku berbunyi notifikasi pesan masuk.

“Hai, apa kabar? Semoga kamu baik-baik saja”

“Nanti sore kita bertemu dihalte yang sama”

“Mungkin spam tak perlu aku menganggap serius pesan ini”

Tiba pukul 16.00 WIB jam kerja sudah berakhir waktunya berkemas untuk pulang. Setibanya di halte pria yang duduk dibangku halte terus memandang ke arahku dari kejauhan.

“Ah, Cuma perasaanku saja”

Sesampainya aku di halte itu …

“O..”

“Kenapa, ada yang salah dengan ku?”

Ternyata pria itu Ringgo, sebenarnya apa yang terjadi dengannya.

“Kenapa ada di sini?” tanyaku

“Tentu saja, ini kan halte bus ke arah rumahku”

“Oh, Rachma weekend besok apa kegiatanmu?”

“Em, di rumah saja kenapa?”

“Oke”

“Apa maksutmu oke?”

“Sudah, sudah busnya sudah datang mari kita naik”

“Hey, kenapa hanya diam di situ cepat naik”

Aku yang sedang kebingungan berusaha menjawab perkataan Ringgo tapi malah membuat diriku tidak terkontrol.

Keesokan harinya aku mendapat pesan dari Ringgo.

“Ini aku Ringgo, keluar aku ada di depan rumahmu”

Aku pun tidak habis pikir dengan perilaku dia yang menurutku sangat aneh. Berbegegas aku membuka pintu untuk membawa Ringgo jauh-jauh dari rumahku.

“Apa maksutmu datang kerumahku, bagaimana bisa kamu tahu alamat rumahku?”

“Siapa yang tidak tahu rumahmu, tentu saja ini rahasiaku”

“Sungguh aneh, kamu benar-benar aneh”

“Sudah sebaiknya kamu pergi sekarang dari rumahku”

Aku berusaha keras untuk mengusir Ringgo dari rumahku.

“Kenapa aku harus pergi dari rumahmu, apa salahku”

Brakkkk, bunyi pintu tertutup.

“Hey, kenapa kau sebenarnya” Ringgo terus membunyikan bel yang ada di rumahku.

Aku membuka pintunya kembali dan ternyata dia masih tetap berdiri di depan rumahku.

“Kenapa kamu masih saja di sini, apa maumu?”

“Mari kita bicarakan ini di taman” Ajakan Ringgo kepadaku

Sewaktu berjalan ke taman aku terus memikirkan sebetulnya ada apa.

“Rachma”

Ringgo memanggilku dengan nada yang sangat datar.

“Iya, Kenapa?”

“Aku tau ini mungkin buat kamu aneh bahkan mungkin kamu akan menjauh dariku”

“Apa cepat katakan, aku tidak suka berbelit-belit seperti itu”

“Mari kita berkencan”

“Apa? Apa yang barusan kamu bilang? Kencan?”

“Aku tahu ini terlalu cepat dan kita juga belum saling mengenal tapi setidaknya dengan kita berkencan kita bisa memahami satu sama lain”

“Apa alasan kamu mau berkencan denganku?”

“Cinta”

“Apa kamu bilang cinta? Tidak masuk akal beberapa minggu bertemu kamu bilang cinta”

Aku tidak mempercai apa yang dia bicarakan saat ini.

“Ini serius, kamu pernah mendengar istilah cinta pada pandangan pertama? Itu yang sedang aku rasakan”

“Sejak kita bertemu aku sudah jatuh hati padamu”

“Maaf, jika ini membuatmu tidak nyaman”

“Baiklah, aku mengerti tapi aku tidak bisa memberimu jawaban sekarang. Karena ini bagiku tidak masuk akal” Jawab ku sambil merasakan kecemasan.

“Oke aku mengerti pikirkan baik-baik aku beri waktu satu minggu untuk berfikiri”

“Aaa, tapi waktu seminggu lama bagiku. Bagaimana jika 3 hari?”

“Oke 3 hari ya Rachma”

“Emm, tidak tahu aku akan memberimu kabar jika aku sudah memutuskan”

“Baiklah, aku pergi dulu”

Ringgo pergi meninggalkanku sendiri di taman.

Sudah 2 hari aku belum bisa memastikan keputusanku. Sebetulnya aku bingung apa yang ada dalam pikirannya.

Tidak terasa ini hari penentuan aku bertemu dengan Ringgo di kedai kopi yang ada di sekitar kantor.

“Hai, apakah sudah ada keputasan yang kamu ambil?”

“Aku tunggu sora ini di halte” Ujar Ringgo

Setelah membeli kopi aku langsung menuju ruanganku. Aku pun melanjutkan pekerjaanku sampai tidak terasa sudah waktunya aku pulang.

Aku berlari ke halte agar tidak tertinggal.

“Rachma”

Serasa ada yang memanggil namaku dari kejauhan. Ternyata Ringgo yang memanggilku.

“Bagaimana sudah ada jawabannya? Maukah berkencan denganku?”

“Hei Rachma kenapa kamu diam saja? Jawab pertanyaanku”

“Yasudah, kalau kamu diam seperti itu berarti kamu sudah menolakku”

Pertanyaan Ringgo yang bertubi-tubi menyerangku. Kenapa aku tidak mencoba berkencan dengannya saja.

“Okelah”

“Maksut kamu oke apa?”

“Oke kita berkencan” Jawabku sembari meninggalkannya di halte bus

“Yes, akhirnya” teriakan keras yang Ringgo keluarkan dari mulutnya.

 Tidak terasa sudah satu bulan aku dan Ringgo berpacaran. Awalnya aku ragu dengannya tapi semakin lama aku menyadari bahwa dia sosok yang baik dan penyayang.

Satu bulan, dua bulan, tiga bulan hubunganku membaik bulan ke empat hubunganku sudah tidak terasa seperti dulu. Entah apa ini hanya aku saja yang merasakan atau bahkan keduanya.

Sudah 5 hari Ringgo tidak memberi kabar lewat telfon atau pesan masuk. Lalu aku memutuskan untuk menghubunginya terlebih dahulu.

“Ringgo, sekarang kamu di mana?”

“Di gereja, kenapa? Mau bertemu?”

“Oo, tidak yasudah lanjutkan terlebih dahulu kalau sudah hubungi aku”

Keesokan harinya Ringgo mengajak bertemu denganku melalui pesan singkatnya.

“Kenapa tiba-tiba kamu ingin menemuiku ada apa?” Ujarku

“Tidak apa-apa, tapi Rachma sejauh ini kamu berfikir hubungan kita akan sia-sia tidak?’

“Kenapa kamu berkata seperti itu?”

“Emm, aku hanya bertanya kepadamu menurut kamu hubungan kita seperti ini akankah akan berjalan lama?”

“Maksut kamu? Aku tahu walau iman kita berbeda tapi tidak menghalangi kita mempunyai hubungan yang lama bukan?”

“Iya, aku paham tapi kita tidak akan menikah jika tidak ada yang mau mengalah”

“Jadi maksut kamu apa Ringgo? Mau kita akhiri saja hubungan kita? Itu yang kamu mau?”

“Sungguh tidak masuk akal”

“Bukan seperti itu Rachma, tapi menurut aku akan sia-sia sedangkan umur kita sudah layak untuk menikah buat apa kita membuang-buang waktu”

“Jika seperti ini akhirnya kenapa kau datang dan memberi hatimu? Ah sudahlah terserah aku capek hari ini”

“Rachma, jawab aku”

“Apa yang mau di jawab lagi, kalau itu mau kamu yasudah kita akhiri hubungan ini”

“Aku mencintaimu Rachma kita sama-sama saling mencintai tapi, tidak bisa kita seperti ini terus menerus”

“Aku juga tahu, yasudah ini keputusan terbaik untuk kita”

“Terima kasih buat selama ini” Akupun meninggalkan Ringgo sambil mencoba menahan air mata yang ingin aku tumpahkan.

Sesampainya di rumah air mata yang tidak terbendung pun jatuh membanjiri pipiku.

Aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, yang hanya bisa aku lakukan menangis dan menangis.

Sudah sejauh ini aku lalui bersama Ringgo kenangan manis yang dia buat bersamaku tapi akankah aku bisa melupakannya? Aku pun tidak yakin.

Satu minggu berlalu, aku dan Ringgo sudah menjalani kehidupan masing-masing.  Tiba-tiba bel pintu rumahku berbunyi.

Ting-tong…

Ternyata yang ada di balik pintu itu Ringgo.

“Ada apa kamu datang ke sini?”

“Ini, datang ke pernikahanku ya Rachma”

Selembar kertas yang bertulisan Ringgo dan Reni membuat hatiku hancur berkeping-keping. Aku mencoba baik-baik saja menerima undangan Ringgo.

“Oke, aku akan datang selamat atas pernikahanmu” Ucapku sembari kuberi senyuman untuknya

“Baiklah, terima kasih aku pergi dulu”

“Ini bukan apa-apa jadi aku harus baik-baik saja” Aku terus menyakinkan diriku agar semuanya terasa baik-baik saja. Tapi semuanya hanya ilusi belaka aku tidak bisa menahan rasa sakit yang ada di hatiku.

Menangis mungkin adalah cara terbaik agar aku bisa bernafas….

Aku pun menghabiskan malamku dengan menangisi yang mungkin tidak perlu aku tangisi.

2 Hari kemudian aku bertemu dengan teman lamaku yaitu Arya.

“Hai Rachma”

“Oo Arya, sudah lama kita tidak bertemu. Apa kabar[VR1] [VR2] ?”

“Alhamdulillah baik, bagaimana denganmu?”

“Syukurlah, aku? Ya baik-baik saja hehe”

“Sepertinya kamu sedang mengalami hari yang buruk. Kenapa? Sini cerita”

“Tidak, bukan apa-apa aku baik-baik saja”

“Oh iya Ar, besok kamu ada acara tidak?”

“Emm, kebetulan tidak kenapa?”

“Yasudah, besok ikut ya ke persta pernikahan temenku”

“Oh oke besok jam berapa?”

“Sekitar jam 7 malam lah ya jemput aku bisa? hehe”

“Oke besok set 7 aku ke rumahmu”

Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke pesta pernikahan Ringgo bersama Arya.



Keesokan harinya aku bersama Arya segera berangkat ke acara pernikahan Ringgo. Dari kejauhan Ringgo sudah melihatku, aku pun melihat Ringgo yang berdiri di sana.

Ringgo melambaikan tangan ke arahku. Rasanya aneh bukan pengantin pria melambaikan tangannya ke wanita lain selain istrinya. Apa hanya aku saja yang merasa aneh?

“Wah, sepertinya kamu berteman baik dengannya. Sampai dia rela melambaikan tangannya ke arahmu” Ujar Arya sedikit menepuk pundakku

“Berteman baik apanya sudah diam jangan terlalu banyak bicara, setelah kita menyapa langsung pulang ya”

“Kenapa tidak menikmati pestanya sebentar? Kenapa kamu ini?”

“Ah sudah tidak usah banyak tanya ikutin saja apa perkataanku” Aku pun meyakinkan Arya agar segera pulang dari acara tersebut.

Setelah lama berjalan menghampiri Ringgo dan kekasinya aku pun memberikan selamat kepadanya.

“Selamat atas pernikahannya” Ujarku sembari menatap Ringgo

“Hai Rachma, iya terima kasih sudah datang. Selamat menikmati pesta malam ini”

Setelah pulang dari pesta pernikahan Ringgo aku menceritakan semuanya kepada Arya bahwa pernikahan itu adalah pernikahan mantan kekasihnya.

“Parah si, kenapa kamu tidak bilang kalau itu pernikahan mantan? Kalau tau kan pasti aku tidak akan mengantarmu supaya tidak datang ke pesta pernikahan itu” Ucap Arya

“Sudahlah semua sudah berakhir, aku mencoba kuat untuk diriku sendiri. Jangan Menambah beban pikiranku lagi Arya”

Satu minggu berlalu aku melewati hari-hari seperti sebelum aku mengenal Ringgo. Penuh dengan kejenuhan soal pekerjaan. Dulu sewaktu ada Ringgo setidaknya rasa jenuhku terobati akan dirinya.

Tapi aku harus terus melanjutkan hidupku agar bisa mencapai titik kebahagiaanku.

Semua yang dipertemukan tidak selamanya bisa bersama selamanya. Walau iman berbeda tapi tidak mengurangi rasa kasih dan cinta antara Ringgo dan Rachma. Sebetulnya mereka masih saling mencintai. Tapi mana bagaimana pun kita tidak bisa melawan takdir yang sudah di tentukan.

Mungkin dengan kejadian ini Allah sudah menentukan seseorang yang baik dari Ringgo untuk Rachma.

Comments

  1. Kakak hobi bikin cerpen yahh?.....
    Klo bisa cerpen anak-anak kak.
    Soalnya kan kebanyakan anak-anak yg nyari cerpen di google
    Buat tugas sekolah....

    Kunjugi balik ya kak
    Masih angett baru netes
    😁😁😁😁
    http://nuurnaim.blogspot.com/?m=1

    ReplyDelete
  2. Kakak hobi bikin cerpen yahh?.....
    Klo bisa cerpen anak-anak kak.
    Soalnya kan kebanyakan anak-anak yg nyari cerpen di google
    Buat tugas sekolah....

    Kunjugi balik ya kak
    Masih angett baru netes
    😁😁😁😁
    http://nuurnaim.blogspot.com/?m=1

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak hobi aja hehehe siap deh.. :)

      Oke kak..

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pertemuan Jilid 2

Bukan Akhir dari Pertemuan Selang beberapa hari karno mencoba ingin menemui sang cewek yang karno sukai diarea masjid yang biasa karno sama ahmad melakukan sholat. “emmm dimana ya, astaghfirullah ya Allah hamba berjalan ke Masjid berniat untuk beribadah, semoga pertemukanlah hamba kepada orang yang hamba ingin jumpai (Aamiin). Tapi takdir berkata lain, mungkin Allah belum mempertemukan mereka kembali. Sudah seminggu karno beribadah di masjid biasa akan tetapi tidak pernah menjumpainya. “kenapa si No kok lu clingak cllinguk ”, “Itu mad gue nyari itu pengen kenalan keinget omongan lu kemarin”. “Oh.. gitu yauda syukurlah”. “tapi gue nggak pernah liat mad akhir – akhir ini kenapa ya?”, “Ya mungkin lagi ada tamu bulanan jadi nggak ke masjid”,” oh iya ya, ayo balik mad kita kan mau ke kampus”. Sepulang dari kampus karno pun berniat untuk mampir ke Perpustakaan Nasional, “Eh mad lu pulang duluan deh gue mau ke perpus bentar mau baca – baca”, “Yoi..” (Perjalanan M

One day in Yogyakarta

Siapa yang tidak tau kota Yogyakarta atau sering di sebut-sebut Jogja istimewa terkenal dengan khas makanannya yaitu gudeg. Dari kalian pasti sudah pernah berlibur ke kota Yogyakarta untuk melihat ke istimewaan serta keindahan kota tersebut. Pada artikel kali ini aku akan bercerita tentang pengalamanku satu hari di Jogja istimewa. Pasti terdengar konyol kenapa cuma satu hari di Jogja, kenapa nggak satu minggu atau satu bulan untuk menikmati liburan. Ya, aku pun sepemikiran tapi dalam satu hari itu membuat pengalaman yang tidak pernah terlupakan. Bagaimana bisa? 3 tahun yang lalu aku bersama 3 teman ku yaitu Jeje, Pipil, dan Kholil berencana berlibur ke Jogja selama 3 hari dengan mengendarai sepeda motor. Awalnya kedua orang tuaku melarang untuk bepergian ke Jogja karena kami berempat menggunakan transportasi yang tidak masuk akal yaitu sepeda motor. Sedangkan kami berempat masih berstatus siswa smk dan belum menerima surat kelulusan. Wajar saja kalau orang tua mengkhawat

Iman yang Tak Sama

Mencintai adalah landasan dalam sebuah hubungan sepasang kekasih. Tetapi iman yang tak sama membuat hati ini ragu akankah kisah kita berjalan sesuai rencana? Mungkin saling mencintai saja tidak cukup untuk membuat kita saling memiki. Pernikahan hanyalah angan-angan yang tidak akan tersampaikan. Kisah cintaku ingin berakhir bahagia bak cerita novel tapi mungkin iman yang memisahkan. Hai, aku Rachma umurku 21 tahun aku bertemu dengan seseorang yang sangat bisa mengenal diriku. Ringgo, iya dia bernama Ringgo, lelaki baik berparas tampan dan berbadan lebih tinggi dariku. Awal mula pertemuan aku dengan Ringgo pada saat kita sama-sama bekerja disalah satu perusahaan  yang ada di pusat kota.  Ringgo : “Hay, aku Ringgo” Sapaan dengan senyum hangat yang kulihat darinya yang menatap kepadaku. “Hay, Rachma” Balasku sambil melempar senyum manisku kepadanya. Pertemuan singkat yang membuatku salah tingkah dan tidur malamku terjaga. “ya Allah, pertemukan k