KARMA


“Mulutmu harimau mu” kalimat yang teringat jelas dalam ingatanku.


Kenapa ini bisa terjadi pada diriku? Aku juga tidak bisa memahami dengan kejadian ini. 


3 tahun lalu masih teringat jelas di mana kejadian itu terjadi. 


Hi aku Rara seorang gadis yang bekerja di perusahaan obat-obatan di salah satu daerah yang ada di Jawa Tengah. 


Kalau mengungkit kisah asmaraku mungkin akan panjang akhirnya. Karena kisah asmaraku tak pernah berjalan mulus bak drama korea yang berakhir bahagia.


Pukul 09.00 WIB aku bersama temanku bernama Ayu duduk di ruang kantor. Ayu tidak hanya namanya saja yang Ayu, ia benar-benar memiliki paras cantik. 


“Sedang apa kamu?” tanyaku kepada Ayu


“Wah mengaggetkanku saja, ini aku masih  

membungkuskan makanan” saut Ayu


“Untuk siapa? Calon kamu? Hehe” ujarku sembari menepuk pundak Ayu


“Bukan Ra, ini aku beri untuk atasan mas Toni” senyum kecil dari Ayu


“Ya sudah aku pergi dulu ya” ucapku sambil menepuk pundak Ayu


“Ayu beruntung memiliki Toni yang gagah, berpendidikan dan berseragam. Tapi jangan sampai aku mendapatkan lelaki seperti Toni” batinku berkata


7 hari menjelang pernikahan Ayu dan Toni. 


“Ra, kamu mau nggak besok pagi bantuin aku menurus beberapa hal untuk persiapan pernikahan?” Tanya Ayu kepadaku


“Boleh, apa Ay?” 


“Besok pagi aku jelaskan Ra” Ujar Ayu


Pagi harinya aku datang kerumah Ayu untuk menemuinya.


“Ayu, apakah bisa berangkat sekarang?”


“Tentu saja, sebentar saya ambil dompet dulu Ra”


Ditengah perjalanan Ayu bercerita tentang persiapan sebelum mereka menikah. 


Aku merasa kasian sama Ayu dia berusaha keras untuk mempersiapkan pernikahannya bersama Toni.


Saat itu aku berfikir; seperti inikah menikah dengan seseorang yang berseragam(polisi, TNI dll) dan rapi memiliki jabatan tinggi?


Tidak, kejadian ini tidak akan menimpa denganku. Aku tidak akan jatuh hati untuk lelaki seperti Toni.


Tak hanya aku yang tidak menginginkan pria berseragam kedua orang tuaku juga kurang suka dengan hal itu, entah kenapa aku juga tidak tahu apa penyebabnya.


Setelah aku dan Ayu selesai menyiapkan pernikahan Ayu, aku pun berpamitan untuk pulang.


“Ay, aku pamit pulang dulu ya” 


“Oh, makasih ya Ra berkat bantuanmu semuanya sudah terselesaikan” jawab Ayu 


Seminggu berlalu acara pernikahan Ayu pun terlaksana tak lupa aku dan teman-teman SD hingga SMA ikut serta hadir di pernikahan Ayu.


Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang.


Plakk... engga gitu bunyinya...

“Siap...aa” aku pun terkagetkan sembari menengok belakang


“Rara bukan, dulu SD Pelita Jaya?” Ujarnya sambil melempar sedikit senyuman


“Iya, kok bisa tahu? Hehe btw, ini...” ucapku yang sedikit kebingungan


“Sudah berapa lama tak jumpa lupa ya Ra, aku Jefri.. masih ingat?” 


“Aaa... Jefri...” sepertinya aku sedikit lupa siapa dia


Setelah berjam-jam ngobrol dengan Jefri aku pun lupa bahwa aku harus pergi menemui ibuku setelah acara Ayu.


“Oh iya, sori Jef aku harus pulang dulu sehabis ini ada acara dengan ibuku” ujarku berusaha memotong perbincanganku dengannya


“Ok, lain kali bisa ngobrol lagi di lain kesempatan Ra. Btw, nomor telfon kamu bisa dicatat di sini” Jefri menyodorkan handphone miliknya


“Baiklah, sudah aku pulang dulu ya” aku berpamitan dan segera pulang untuk menemui ibu


2 bulan aku dipindahkan bekerja di Jakarta dan aku sudah hilang kontak dengan Jefri. Aku tidak mengharapkannya  tapi bagiku dia cukup baik selama ini. 


Aku menganggap Jefri tidak lebih dari seorang teman jadi ada atau tidaknya dia bukan masalah bagiku. 


3 bulan, 4 bulan, 5 bulan bahkan hampir satu tahun aku berada di Jakarta. Memiliki kebiasaan dan rutinitas yang sangat berbeda dari sebelumnya.


Tiba-tiba handphoneku berbunyi.

Tring.....Tring....


“Halo” jawabku


“Halo Ra..” 

Sepertinya suara ini tak asing bagiku. Apakah ini...


“Ra, kok diam ini aku Jefri” 


“Oh iya sori tadi sempet hilang sinyal sebentar” Sesuai dugaanku dia kembali


“Apa kabar? Sudah lama tidak menghubungimu, sekarang kamu di Jakarta ya? Tanya Jefri


“Baik, iya aku di Jakarta sibuk apa kamu?” Jawabku 


“Syukurlah, akhir-akhir ini aku sibuk dinas luar kota Ra. Sudah dulu ya nanti akan aku hubungi lagi” 


“Ok..” 


Jefri seperti hujan, tidak diketahui kapan akan datang dan kapan akan pergi.


Sebetulnya aku penasaran apa yang sedang Jefri kerjakan. Sampai ia tak bisa bebas menggunakan ponsel miliknya.


Tapi apa boleh buat jika aku bertanya tidak sopan menanyakan hal-hal pribadi.


Selang beberapa hari Jefri memberi kabar bahwa dia sedang berada di Jakarta. Dia ingin bertemu denganku. Sebagai teman yang baik tidak ada salahnya kan aku menerima tawarannya.


Keesokan harinya Jefri berencana menjemputku dari alamat yang sudah aku berikan.


“Ra, aku otw ya” 


Pesan masuk dari Jefri 

“Iya, hati-hati jika sudah sampai kabari” jawabku melalui pesan


Satu jam berlalu akhirnya Jefri pun sampai. 


“Hi Ra” sapa Jefri sembari membua helm yang ia pakai


“Ra... are you okay?”


“Aaa, iya Jef sori” jawabku sambil bernada gemeteran


What!! bisa-bisanya di situasi seperti ini jantungku berdebar. Sangat tidak masuk akal. 


“Ra, kita ke tempat makan ya aku belum makan” Ujarnya


“Iya Jef aku ngikut aja hehe”


Sesampainya di rumah makan Jefri memesankan makanan untukku dan dirinya.


“Sudah lama ya kita tak jumpa” Ujar Jefri


“Ah, baru tahun lalu kita bertemu hehe” jawabku 


“Benar juga satu tahun terasa satu minggu ya”


Tidak terasa sudah 3 jam lamanya aku dan Jefri di rumah makan itu keaskikan ngobrol jadi lupa waktu.


Kita bertemu saling bertukar cerita.

“Ternyata Jefri orangnya seasik itu” pikirku 


“Ayo waktunya kita pulang hehe” ajakan Jefri


“Wah, tak terasa ya” 


Jefri pun mengantarkan aku pulang dengan selamat. Semalaman tidurku terjaga tiba-tiba aku terus memikirkan dia.


Rasa ini bukan berarti aku mudah mencintai seseorang.


Dia orang yang mengerti aku walau kita baru bertemu beberapa kali. 


“Eh tapi tunggu dulu tadi dia bilang bekerja sebagai abdi Negara berarti...”


Bagaimana ini bisa terjadi denganku? Tidak mungkin ini terjadi bukan? 


Aku sangat membenci lelaki sepertinya tapi kenapa aku jatuh hati padanya.


Apa mungkin ini lelaki yang tepat untukku? Atau Tuhan memang sudah merencanakan dia untukku? 


Tapi kenapa harus dia.. susah untuk menolak dan sulit untuk menerima kenyataan ini.


Memang benar apa kata Rei “Janganlah kamu membenci seseorang yang tidak pantas dibenci, jika kamu mencintai akan menyesal dikemudian hari” 


Apakah ini yang dinamakan karma atas ucapan yang aku lontarkan.


“Ya Tuhan, jika dia benar lelaki yang Engkau kirim untukku, aku terima. Jika dia bukan jodohku berikanlah lelaki yang lebih baik darinya” 

3 comments:

  1. Siap ka, terima kasih sudah berkunjung :)

    ReplyDelete
  2. Dalamnya laut dapat diukur, dalamnya hati siapa yg tahu. Kita tak pernah tahu pada siapa akan jatuh hati.
    Btw, thanks Vina 😊

    ReplyDelete

Powered by Blogger.